![]() |
Ilustrasi Gambar : Liputan6.com |
"Mama Bilang Diam! Jangan Nangis!"
"Jangan Cengeng Jadi Anak!"
"Jangan Marah-Marah sama orang, enggak bagus!"
Ungkapan seperti ini sering terjadi didalam kehidupan sehari-hari. Seorang
anak yang menangis kepada orang tua karena kesal, marah dan kecewa. Orang tua
dengan segera menyuruh untuk diam. Seorang bos yang marah kepada bawahannya
karena kinerja yang salah. Lalu ia pulang membawa kekesalannya dan melampiaskan
kepada istri. Seorang ibu yang lelah bekerja, mengurus rumah tangga dan
bertengkar dengan suami melampiaskan kemarahannya kepada anak. Dendam pada
mertua lalu suami yang menerima pembalasannya. Itu semua bukan cerita dalam
drama di layar kaca. Realita kehidupan ini tidak terlepas dari tubuh fisik dan
batin yang kurang seimbang dalam menghadapi masalah. Lalu bagaimana
menyeimbangkan keadaan tubuh fisik dan batin agar friksi dapat
diminimalisasi?
Katarsis
Merupakan pelepasan
emosi negatif dan keluh kesah akibat luka batin yang tersimpan serta terpendam.
Kathoros berasal dari Bahasa Yunani yang berarti pembersihan dan pemurnian.
Sigmund Freud menggambarkan kondisi seseorang melepaskan rasa sakit di masa lalu
dengan cara mengartikulasikan segala sakit secara menyeluruh.
“The Stimulating Versus Cathartic Effect of a Vicarious Aggressive
Activity” merupakan tulisan Sigmund Freud pada awal tahun 1960 sebagai
penggambaran diri bahwa emosi yang tertahan bisa menyebabkan emosi yang
berlebihan sehingga butuh media untuk menyalurkan emosi tersebut. Biasanya
emosi yang tertahan ini akibat peristiwa dan pengalaman yang menyakitkan.
Psikoanalisis Freud mengungkapkan bahwa manusia dipengaruhi oleh gerakan Eros
dan Thanatos.
Eros adalah bersifat konstruktif atau membangun. Emosi bersifat sementara
didalam diri, lalu bangkit menjadikan luka batin menjadi produktif
Thanatos bersifat destruktif atau merusak. Emosi yang bersifat agresif dan
kecenderungan untuk menyerang, melakukan pertentangan dan perlawanan kepada
orang lain. Apabila telah mereda emosi ini, suatu hari ia bertemu dengan orang
yang pernah melukainya, naluri akan terangsang untuk berperilaku agresi dengan
berbagai cara. Misal : tidak mau bertemu dengan dia, buang muka dan
lain-lain.
Menjalani kehidupan ini, tentunya kita sering mengalami pergesekan
dengan orang lain. Tersinggung akibat bercanda yang keterlaluan, marah akibat
dibentak, kecewa ketika pasangan mendua, kecewa karena cinta bertepuk sebelah
tangan dan masih banyak ungkapan rasa lain yang harus diluapkan keluar. Apakah
marah-marah dan kecewa kepada orang lain itu wajar? Marah dan kecewanya wajar,
tetapi orang lain yang menjadi pelampiasan ini bersifat ambigu dan kurang
tepat.
Apa yang Terjadi Pada
Tubuh Ketika Marah, Kecewa, Berduka, Kesal?
Analogi sederhana untuk menggambarkan tubuh fisik dan batin dalam kondisi
seperti ini bagaikan menyimpan balon yang terus diisi air. Apabila sudah penuh,
meluap dan tidak dapat menampung akan pecah. Kemungkinan yang terjadi ketika
pecah kedalam atau pecah keluar. Jika pecah didalam, tentunya hal ini akan
menjadi racun didalam diri. Luka batin ini akan tersimpan dan terpendam, memori
akan merekam dan suatu saat akan recall (dipanggil kembali). Maksudnya recall
adalah menimbulkan perasaan bersalah yang berkepanjangan. Pernah melihat
seorang kakek/nenek yang sudah mulai terserang demensia? Tiba-tiba melihat
cermin, menangis. Melihat anak kecil yang bermain, menangis.
Perasaan Ditolak atau Denying. Saat terjadi ungkapan rasa marah, kecewa dan
kesal, disinilah perasaan denying muncul. Keadaan menyangkal, mengingkari,
melawan, keberatan dan antipati akan mengikuti berjalan beriringan dengan
perasaan marah. Merasa ditolak oleh lingkungan dan ditinggalkan oleh orang
lain. Emotional distress meningkat dan memicu tindakan membangun dan merusak.
Kondisi yang memilukan adalah self-destructive, seorang akan memiliki
kecenderungan untuk menyakiti diri sendiri. Menolak realitas pernah
disakiti/pernah menjadi korban dan terus berhalusinasi, jika ia ditolak oleh
lingkungan.
Anjuran penanganan perasaan seperti ini dapat dilakukan dengan
hypnotherapy. Tetapi hypnotherapy dapat dilakukan dengan katarsis terlebih
dahulu. Luka batin yang belum disembuhkan dengan cara katarsis akan tersimpan
didalam gudang memori dan suatu saat akan terpanggil lagi mencuat di
permukaan.
Apa yang Terjadi Jika
Tidak Meluapkan Emosi Negatif?
Berdasarkan hasil Riset Programme for International Students
Assesment(PISA) 2018, Indonesia menempati posisi ke-5 dari 78 negara dengan
jumlah kasus korban perundungan (bullying) sejumlah 41,1%. Sepanjang 2018, KPAI
mencatat 445 kasus kekerasan di lingkungan terjadi pada anak, baik dilakukan
oleh orang tua atau teman sebayanya sendiri. Ditemukan lagi fakta lain dari
Komnas Perempuan terdapat fakta yang mencengangkan berupa 8.234 kasus kekerasan
perempuan diranah pribadi/privat yaitu kekerasan terhadap istri 3.221 kasus
(49%), posisi kedua kekerasan terhadap pacar 1.309 kasus (20%), ketiga
kekerasan terhadap anak perempuan 954 kasus (14%), sisanya kekerasan terhadap
mantan suami, mantan pacar, pekerja rumah tangga. Komnas perempuan
mengungkapkan pola yang sama, dipicu oleh ranah hubungan/lingkungan pribadi
dengan berbagai faktor yaitu himpitan ekonomi, ketidakharmonisan keluarga,
kontrol emosi yang kurang, faktor internal yang tempramen, kecemasan berlebihan
dan pengalaman masa lalu yang menyakitkan.
UU No.18 Tahun 2014 tentang kesehatan jiwa mengkategorikan kondisi gangguan
kesehatan jiwa seseorang dalam tiga kelompok :
1. Orang Dengan Masalah Kejiwaan (ODMK) yaitu orang yang mengalami masalah
fisik, mental, sosial, kualitas hidup sehingga beresiko mengalami gangguan
jiwa.
2. Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yaitu orang yang mengalami gangguan
dalam bentuk pikiran, perilaku dan perubahan yang bermakna sehingga tidak dapat
menjalankan fungsi diri sebagaimana manusia harus bertindak.
3. Orang Gangguan Jiwa Berat (termasuk dalam ODGJ) yaitu orang yang sudah
tidak dapat membedakan realitas kehidupan dan kerap kali mengalami halusinasi
dan ilusi.
Sekumpulan kasus ini menjadi gambaran betapa bahayanya emosi negatif yang
tidak dikontrol dengan baik oleh diri. Dampaknya akan buruk terhadap diri
sendiri dan orang lain. Bahkan dampak ini bersifat ripple effect/ efek riak
yang negatif terhadap lingkungan sekitar. Misalnya seorang anak yang selalu
dijadikan korban pelampiasan kekesalan orang tua, karena tidak sanggup melawan
akan berusaha melampiaskan kemarahannya kepada teman sebaya dengan
melakukan bullying. Jika tidak mampu bersikap agresif, ia akan
tumbuh menjadi anak yang pemurung dan penutup. Pelampiasan lainnya, ia akan
bercerita kepada orang lain karena di rumah ia tidak menemukan kenyamanan. Hal
ini akan dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan
tindak kejahatan seperti kekerasan seksual dan human trafficking. Kondisi lain
ketika emosi negatif tidak meluap keluar adalah depresi, gangguan kejiwaan dan
kelahiran prematur bagi ibu yang sedang hamil.
Membuang Sampah Emosi
dengan Baik :
1. Therapy Zaman Yunani Kuno
Selain Sigmund Freud, Aristoteles pernah membahas masalah katarsis dalam
dua karya yang berjudul Politics dan Poetics. Dalam karya politics, ia
menyebutkan seseorang yang merasakan pengalaman yang memilukan dapat
disembuhkan dengan mendengar lagu sakral karena lagu sakral dianggap sebagai
pemurnian dan penyucian diri. Buku ke-enam yang berjudul Poetics menyebutkan bahwa
Drama Yunani Kuno dapat digunakan sebagai media membuang emosi negatif dalam
diri. Drama Yunani Kuno ini menirukan rasa pilu dan takut yang dialami
seseorang, sehingga dengan cara melihat maka emosi akan meluap melalui drama
tersebut.
2. Art Therapy
Batin yang tertekan tak selamanya keluar dalam bentuk amarah, kemarahan dan
dendam. Kondisi batin yang tertekan akan menyebabkan luapan emosi justru masuk
kedalam diri dalam bentuk depresi dan frustasi. Hal ini yang membuat penderita
depresi sulit untuk mengungkap perasaannya melalui kata-kata atau sekedar
bercerita tentang apa yang ia rasakan. Salah satu caranya dengan menggambar,
melukis dan menuangkan segala bentuk amarah dalam bentuk visual sebagai
pengganti kata-kata. American Art Association (2013), menyatakan bahwa art
therapy ini sebagai bentuk memfasilitasi seseorang yang memendam emosi dengan
menggunakan media seni sebagai cara berpikir kreatif. Hasil karya ini akan
digunakan untuk mengeksplorasi ungkapan konflik emosi didalam diri, menata diri,
menata perubahan yang terjadi, dan mengembalikan pada orientasi realitas
kehidupan. Art Therapy dapat mengurangi ketergantungan pada orang lain jika
emosi tersebut harus meluap. Artinya pelampiasan diri sudah terpenuhi melalui
proses berpikir kreatif diatas tinta dan kertas, sehingga pergesekan dengan
marah kepada orang lain dapat diminimalisasi.
3. Self Hypnosis
Metode ini digunakan untuk memberikan motivasi kepada diri sendiri. Metode
ini menggunakan pikiran bawah sadar, relaksasi dan sugesti untuk
mengembalikannya dalam kondisi normal. Stimulus ini diberikan dengan cara
menghilangkan segala bentuk campur tangan pikiran dan mengembalikan pada
kesadaran diri tentang kehidupan.
4. Self Therapy dengan Menulis
Terkadang ada hal yang tidak dapat diceritaka kepada orang lain dengan
berbagai alasan. Misalnya karena rasa tidak enak akan menyakiti hati orang lain
dan menyimpannya rapat-rapat, tidak mampu melawan karena tidak enak hati dan
lain-lain. Setiap diri memiliki sikap yang berbeda, ada yang diam (pasif) dan
lantang (subversif). Bagi subversif, ia akan lantang berbicara dan tidak akan
memendam luka batin didalam dirinya. Bagi si pasif, ia akan memilih untuk
banyak diam dan membuktikan dengan fakta terbalik. Media tulisan dapat
digunakan untuk menuangkan segala bentuk emosi negatif dibanding menyakiti hati
orang lain. Dalam diary, seseorang tidak akan malu mengungkapkan semua yang
dirasakan. Menuliskan segala keluh kesah dalam catatan menjadi self therapy
untuk mengantisipasi tindakan buruk yang terjadi. Hal ini dapat melatih dan
memicu amigdala bagian otak untuk berpikir kreatif dan ekspresif. Keadaan
normal yang dihadapi oleh diri merasa sakit jika disakiti. Hal yang berbahaya
adalah jika sudah tidak dapat merasakan sakit. Keadaan tidak dapat merasakan
sakit atau congenital insensitivity to pain yang disebabkan oleh faktor genetik
karena mutasi gen SCN9A atau yang jarang terjadi adalah mutasi gen PMRD12.
5. Bercerita, Bernyanyi dan Menangis
Jika bercerita dapat melegakan batin yang tertekan, maka pilihlah orang
yang tepat untuk berbicara. Ketika seseorang berbicara, maka simptom (gejala
munculnya perbedaan diri akibat penyakit) akan menghilang. Jika harus meluapkan
emosi negatif dalam bentuk menangis, keluarkan dalam bentuk tangis yang bermanfaat.
Setelah itu, berusahalah untuk membangun kepercayaan diri bahwa setiap orang
memiliki keberhargaan dalam kehidupan ini. Jika melihat anak menangis, biarkan
ia melepas semua perasaan kecewa dan kekesalannya. Menangis bukan tanda lemah
dan cengeng, menangis menjadi media katarsis yang tidak dapat diungkapkan
dengan kata-kata. Dengan menekan alam bawah sadar pada kesadaran bahwa realitas
ini berjalan beriringan ada gelap dan terang, baik dan buruk, bahagia dan
sedih. Jika orang tua marah, ada sisi baik dan buruk didalam orang tua yang
harus disadari sebagai bentuk realitas dunia yang berjalan seimbang. Bagi orang
tua atau pasangan, tidak ada salahnya membentuk kesadaran untuk meminta maaf
apabila bersalah. Hal ini dapat membangun kepercayaan diri seseorang setelah
adanya penolakan didalam diri.
6. Meditasi
Metode penenangan diri melalui meditasi bertujuan untuk menekan sisi fisik
untuk memunculkan sisi batin. Treatment meditasi ini dengan cara dogmatis atau
mengurangi aktivitas fisik. Jika sedang melakukan banyak aktivitas, cobalah
untuk menarik diri dengan menyadari keberadaan batin Anda yang sangat penting
untuk didengar dan dipulihkan setelah terluka.
7. Menyeimbangkan Diri dengan Olah Raga, Olah Rasa, Olah Jiwa, Olah
Mental
Hal ini dapat dilakukan seiring dengan perjalanan waktu dan pendewasaan
diri. Pada tahapan seperti apa kita akan merasakan puncaknya kekecewaan,
puncaknya kemarahan, puncak bahagia bahkan puncak pencapaian tertinggi diri
dengan menggabungkan sisi fisik dan batin dengan berbagai pengalaman dan
peristiwa didalam kehidupan.
Emosi negatif ini memang berbeda dengan gangguan mental, tetapi emosi
negatif yang tidak dikelola dengan baik akan menyebabkan gangguan mental dan
merusak lingkungan sekitar. Emosi negatif menjadi penyeimbang didalam
kehidupan, tetapi porsinya harus diperhatikan dan membuangnya harus dengan cara
yang tepat. Kita harus mulai mengenal diri dalam sudut normal dan
abnormal.
Bogor, 5 Desember 2021
Salam,
Sri Patmi
0 comments:
Post a Comment
Click to see the code!
To insert emoticon you must added at least one space before the code.