Wednesday, 4 February 2015
Wednesday, February 04, 2015

RAHASIA KEMENANGAN TIGA KARTU

RAHASIA KEMENANGAN TIGA KARTU







Herman, seorang pemuda, tinggal di Saint Petersburg, Rusia. Ayahnya orang Jerman yang bekerja di Rusia sebelum Herman lahir. Waktu ayahnya meninggal, Herman menjadi tentara Rusia. Herman tak punya banyak uang. Tapi banyak tentara muda sering suka menghamburkan uangnya. Mereka gemar menghabiskan uang dengan minum anggur tiap malam dan bermain kartu. Kadang-kadang mereka berjudi sampai semalaman.

Herman tidak pernah minum dan berjudi. Dia sangat berhati-hati dalam menggunakan uangnya. Tapi dia suka menonton para pemuda kaya bermain judi tiap malam. Dia ingin sekali menjadi kaya, tapi dia tidak pernah cukup punya uang untuk berjudi.

Salah seorang pemuda kaya yang sering berjudi tiap malam adalah Tomsky. Tomsky sering melihat Herman duduk di dekat meja judi dan terheran karena Herman tak pernah ikut main kartu.
Pada suatu pesta di satu malam, saat menjelang pukul empat pagi, Tomsky kalah dan uangnya habis sampai dia menjadi sedih. Dia menginginkan seseorang untuk menjadi teman bicara, lalu dia duduk di samping Herman.

Kenapa kau tak pernah main kartu?” Tomsky bertanya pada Herman.

Uangku cuma sedikit,” jawab Herman. “Aku tak mau uangku habis di meja judi.”

Tapi kau duduk di sini tiap malam dan cuma menonton kami yang kalah dan yang menang.” Kata Tomsky.

Ya,” Herman tak menyangkal. “Aku sangat suka permainan judi kartu.”

Terus, kau tak mau ikutan main walaupun kau tahu kau akan menang?” Tanya Tomsky dengan 
senyuman.

Mungkin,” jawab Herman pelan. “Tapi itu tak mungkin.”

Mungkin tak juga,” kata Tomsky. “Nenekku, Istri Bangsawan Anna Fedotofna, dia tahu rahasia Kemenangan Tiga Kartu. Tapi dia tak mau memberi tahu orang lain dan dia tak pernah berjudi."

Aku tak percaya padamu,” kata Herman.

Kalau begitu dengarkan dulu cerita ini,” kata Tomsky. “Nenekku sudah lebih dari delapan puluh tahun umurnya, tapi dia sangat cantik waktu masih muda. Sekitar enam puluh tahun yang lalu, nenekku pergi ke Paris. Dia main kartu bersama Bangsawan dari Orleans dan menghabiskan semua uang kakekku. Kakekku sangat marah sekali dan mengatakan bahwa dia tak mampu membayar kekalahan itu. Uangnya tak cukup untuk  menutupi seluruh hutangnya. Nenekku jadi cemas bercampur sedih dan mencoba untuk meminjam uang dari temannya – seorang ternama yang dikenal sebagai Bangsawan Jerman. Bangsawan Jerman itu orangnya sangat misterius. Dia sangat kaya raya, tapi tak ada seorangpun yang tahu dari mana sumber kekayaannya itu. Dia mengetahui banyak rahasia dan dia menceritakan salah satunya pada nenekku tentang rahasia Kemenangan Tiga Kartu. Mungkin Bangsawan dari Jerman itu jatuh cinta pada nenekku, siapa tahu? Malam berikutnya, nenekku kembali main kartu dengan Bangsawan dari Orleans itu. Dia memainkan tiga kartu – satu kartu untuk tiap malam. Ketiga-tiganya membuat dia menang. Dia langsung membayar semua hutang-hutangnya dan tidak pernah berjudi lagi. Dan dia tidak pernah meberitahukan pada siapapun tentang rahasia Kemenangan Tiga Kartu itu!

Itu tak benar,” kata Herman pelan. “Itu cuma cerita belaka, kan?

Tak juga,” kata Tomsky. “Tapi waktunya sudah tak memungkinkan! Ini sudah hampir pagi. Enam seperempat dan ini waktunya untuk tidur.”

Seluruh anak muda menghabiskan minuman mereka dan pulang ke rumah masing-masing. Pagi ini adalah awal musim dingin. Sepanjang perjalanannya di atas jalanan Saint Petersburg yang bersalju, Herman tak bisa berhenti berpikir tentang cerita Tomsky. 

Kalo aku tahu rahasia Kemenangan Tiga Kartu itu, aku pasti bisa kaya!” pikir Herman pada dirinya sendiri. “Dan kalo aku kaya, aku akan berfoya-foya seperti Tomsky.

Herman tahu di mana rumah nenek Tomsky dan dia memutuskan untuk berjalan melewatinya. Dia berdiri di seberang jalan dan melihat ke arah rumah si Janda Bangsawan yang besar itu. Dalam semburan cahaya pagi, dia melihat seorang gadis cantik duduk di jendela. Wajahnya murung, seperti sedang menangis. Gadis itu berpaling dan melihat Herman sedang menatap kepadanya. Herman senyum dan wajah si Gadis jadi memerah. Dia bergerak cepat menghindari jendela. Herman jadi tersenyum pada diri sendiri.

Kemudian hari, Herman bertanya pada teman-teman Tomsky tentang si Gadis yang tinggal di rumah si Janda Bangsawan tua itu.

Itu Lizavyeta Ivanovna,” jawab salah satu teman Tomsky. 
Orangtuanya meninggal waktu dia masih sangat muda dan dia dititipkan pada si Janda Bangsawan tua itu. Tapi si Janda Bangsawan tidak memperlakukan dia dengan baik. Si miskin Lizavyeta tinggal di rumahnya seperti seorang pembantu yang tak digaji. Dia tidak diperlakukan seperti layaknya seorang anggota keluarga.”

Herman membuat rencana untuk bisa masuk ke dalam rumah si Janda Bangsawan tua itu. Tiap hari dia berdiri di luar rumah besar itu dan berusaha menarik perhatian Lizavyeta. Setelah seminggu, dia menulis surat untuknya.

Pagi berikutnya, seperti biasanya Lizavyeta Ivanovna keluar rumah bersama si Janda Bangsawan tua, Herman menyebrangi jalan menuju ke arah mereka. Saat si pelayan sedang menolong si Janda Bangsawan menaiki keretanya, Herman memberikan suratnya pada Lizavyeta dan buru-buru berjalan menjauh.

Lizavyeta menyimpan surat itu. Dia membacanya, saat dia sudah sendirian di kamarnya.
Dalam suratnya, Herman menulis;
Buat Lizavyeta Ivanovna. Saya cinta kamu. Saya harus menjumpai kamu. Dari pengagummu, Herman.

Gadis miskin itu tak tahu apa yang harus dilakukannya. Dia hidup seperti seorang narapidana di dalam sebuah rumah besar. Dia tak memiliki seorang temanpun. Dia tak memiliki seseorang untuk dimintai nasehat. Dia memutuskan untuk membalas surat Herman. Hari berikutnya, ketika dia melihat Herman berdiri di seberang jalan, dia membuka jendela dan melemparkan suratnya padanya. Herman memungutnya dan lalu pergi.



Surat balasan Lizavyeta berbunyi:
Tidak baik buat saya menerima sepucuk surat dari orang asing. Saya harus membalas surat anda karena saya tidak tahu siapa anda. Tapi saya percaya anda adalah orang baik.

Herman berharap Lizavyeta dapat memberikan jawaban atas misteri Kemenangan Tiga Kartu dengan cara ini. Untuk hari-hari berikutnya, dia memberikan surat pada Lizavyeta setiap pagi. Lizavyeta membalas suratnya dan balasannya kian hari kian panjang dan panjang.

Seminggu kemudian, Lizavyeta melemparkan suratnya keluar jendela:
Si Janda Bangsawan akan keluar malam ini. Dia tidak akan pulang sampai jam dua pagi. Saya akan biarkan pintu depan tak terkunci. Para pelayan akan tidur. Datanglah setengah sebelas. Naik ke atas dan belok kiri. Kamu akan melihat kamar si Bangsawan tepat di depan kamu. Masuklah kekamar si bangsawan itu. Di sana ada dua pintu besar di belakang tirai merah di kamarnya itu. Pintu sebelah kanan akan mengarah ke ruang baca, tak ada seorangpun yang pernah masuk ke sana. Di balik pintu yang lain, ada tangga yang akan menuntun kamu ke kamar saya.”

Sepanjang hari Herman menunggu dengan penuh ketaksabaran. Tepat jam sepuluh malam, dia sudah berada di luar rumah si Janda Bangsawan. Saat ini angin dingin dan salju turun, tapi dia tak merasakan semua itu. Herman melihat si Janda Bangsawan menaiki kereta kudanya dan berlalu dari situ. Pada saat tepat jam setengah sebelas, dia masuk ke dalam rumah. Dia bergegas menaiki tangga dan masuk ke dalam kamar si Janda Bangsawan. Cahaya keemasan memancar dari lampu minyak di kamar itu.

Herman tak beranjak ke kamar Lizavyeta. Tapi dia malah memasuki pintu sebelah kanan, ke kamar baca. Dia berdiri di kegelapan dan keheningan, mendengarkan detak jam yang tak terasa telah menunjuk jam dua belas, lalu satu, kemudian dua. Menit-menit berlalu, seorang pelayan membawa lilin menyala memasuki kamar tidur, diikuti si Janda Bangsawan.

Herman memperhatikan dari balik tirai merah. Si pelayan menggantikan pakaian wanita tua itu dengan pakaian tidur. Tapi si Janda Bangsawan tak mau tidur. Dia cuma duduk di kursi goyang dekat jendela dan memandangi lampu jalanan. Si pelayan meniup lilin dan meninggalkan dia sendirian.
Si Janda Bangsawan melihat ke arah munculnya Herman dari balik tirai merah.

Jangan takut,” kata Herman. “Saya tak akan menyakiti anda. Saya datang cuma ingin mengajukan satu pertanyaan.

Si Janda Bangsawab tercekat.

Anda tahu rahasia Kemenangan Tiga Kartu,” kata Herman. “Katakan pada saya rahasia itu dan saya akan membiarkan anda selamat.

Jangan, jangan” bisik si Janda Bangsawan. “Saya tak bisa mengatakannya padamu.”

Kenapa?” Tanya Herman penuh geram. “Anda tahu rahasia itu, kan?
Si Janda Bangsawan terdiam.

Apa gunanya rahasia itu buat anda?” pinta Herman. “Anda sudah tua. Anda tak butuh uang. Sebentar lagi anda mati. Bikin saya bahagia. Katakan rahasia itu!

Si Janda Bangsawan terus diam.

Perempuan tua bodoh,” kata Herman. “Saya akan paksa kamu bicara!

Herman mengeluarkan pistol dari sakunya. Si Janda Bangsawan mengangkat kedua tangannya menutupi sebagian wajahnya, lalu seketika terjungkal ke belakang di sandaran kursi goyangnya dan tak bergerak lagi. Matanya terus menatap Herman, tapi tatapan matanya itu kosong. Herman langsung mengira dia sudah mati.

Herman buru-buru membuka pintu menuju kamar Lizavyeta dan bergegas menaiki tangga. Lizavyeta masih menunggu kedatangan Herman. Dia mengenakan pakaian terbagusnya. Wajahnya pucat.

Dari mana saja kamu?” dia berbisik.
Di dalam kamar si Janda Bangsawan,” jawab Herman. “Si Janda Bangsawan itu mati.”
Lizavyeta setengah tak percaya mendengarnya.

Saya datang ke sini untuk sebuah rahasia,” Herman menjelaskan. “Saya mau mempelajari rahasia kemenangan tiga kartu. Saya menanyakannya pada si Janda Bangsawan. Tapi dia menolak. Lalu tiba-tiba, dia mati di kursinya. Saya tak membunuhnya.”

Mata Lizavyeta berurai air mata. Dia mengerti sekarang kalau surat-surat cintanya adalah sesuatu yang hampa! Dia mulai menangis sesegukan. Dia menginginkan Herman untuk segera keluar dari rumah itu secepatnya. Dia tak ingin melihatnya lagi. Lizavyeta menghapus air matanya.

Ada tangga rahasia dari ruang baca si Janda Bangsawan,” katanya. “Tangga itu menuju ke bawah menuju jalanan belakang rumah. Ini – ambil kuncinya. Pergi sekarang!

Herman meninggalkan kamar Lizavyeta menuruni tangga. Dia melewati kembali kamar si Janda Bangsawan. Wajah si Janda Bangsawan nampak damai. Herman tak bersedih atas kematian si Janda Bangsawan. Tapi sangat sedih karena dia mati tanpa sempat memberitahukan rahasianya.
Lalu dia menemukan pintu rahasia di kamar baca. Dia membukanya dan segera menuruni tangga yang gelap itu. Anak kunci membuka pintu kecil menuju ke jalanan. Dia berjalan keluar bergegas meninggalkan rumah itu.

* * * *

Tiga hari kemudian, Herman datang melayat kematian si Janda Bangsawan. Gereja penuh. Orang-orang datang dan pergi untuk memberi ciuman terakhir di wajah si Janda Bangsawan yang terbaring di dalam peti jenazahnya. Herman mengikuti mereka dan sampai gilirannya berada di depan peti jenazah. Dia melihat ke bawah kepada jenazah si Janda Bangsawan. 

Lalu tiba-tiba, sesuatu yang aneh terjadi. Nampak oleh Herman, sebelah mata si Janda Bangsawan itu terbuka dan berkedip padanya. Herman termundur karena terkejut, terpeleset dan jatuh di lantai. Orang-orang yang berada di sekitar peti jenazah menolong membangunkan Herman dan lalu dia cepat-cepat meninggalkan gereja itu. Pada saat yang sama, Lizavyeta dalam keadaan lemah karena sakit hatinya.

Siang harinya, Herman minum banyak anggur. Dia tertidur di ranjangnya tanpa busana.
Hari sudah gelap saat dia bangun. Sekitar jam tiga seperempat pagi. Dia pikir ada orang yang sedang memandanginya lewat jendela. Dia duduk di ranjangnya. Sesaat kemudian pintu terbuka dan seorang perempuan dalam baju panjang putih, datang. Dia adalah jenazah si Janda Bangsawan!

Saya datang untuk mengatakan rahasia itu,” kata si Janda Bangsawan. “Kamu cuma boleh memainkan satu kartu pada tiap malam selama tiga malam berturut-turut. Setelah itu kamu tak boleh main kartu lagi seumur hidup. Juga, kamu tak boleh memberitahukan rahasia ini pada orang lain. Tiga, Tujuh dan As akan memenangkan setiap taruhan kamu.

Janda Bangsawan itu berbalik keluar melalui pintu yang masih tertutup di belakangnya. Ini terjadi lama berselang sebelum Herman terjaga dari tidurnya. Dia coba membuka jendela dan menemukan bahwa pintu itu masih terkunci.

*****

Seorang penjudi kawakan dikenal dengan nama Chekalinsky tinggal di Saint Petersburg. Dia telah memenangkan jutaan rubel dari permainan kartu dan siapapun boleh datang ke rumahnya untuk bermain judi dengannya. Seluruh orang kaya biasa datang untuk berjudi di mejanya dan Tomsky adalah salah satu pengujung tetapnya. Herman meminta Tomsky untuk mengajaknya datang ke rumah Chekalinsky.

Permainan judi telah dimulai ketika mereka sampai. Chekalinsky sedang membagikan kartu. Herman menunggu sampai akhir permainan dan dia berkata, “Boleh saya main?
Chekalinsky cuma senyum dan mengangguk. Herman mengambil tiga kartu dari tumpukannya dan meletakkannya di meja. Lalu mengeluarkan uang taruhan dari kantongnya dan mulai menutupi kartu dengan uang itu.

Chekalinsky sempat terkejut. “Kamu mau taruhan berapa?” tanyanya, sambil mengeluarkan catatan banknya.

Empat puluh tujuh ribu rubel,” jawab Herman.
Semua orang seketika berbalik memandang padanya.

Gila dia,” seru Tomsky.

Dia mabuk,” kata penjudi lain.

Maaf,” kata Chekalinsky, “tapi itu banyak sekali- belum ada orang yang taruhan sebanyak itu.”

Anda terima taruhannya apa tidak?” Tanya Herman.

Chekalinsky mengangguk dan memulai membagi kartu. Kartu di tangan kanannya adalah kartu yang kalah – kartu di tangan kiri kartu yang menang. Dia membuka kartu sembilan dari kanan dan kartu tiga dari kiri.

Saya menang,” kata Herman, sambil menunjukkan kartunya – kartu tiga.

 

Chekalinsky senyum perlahan, lalu menghitung uangnya. Herman meraup uangnya dan pergi.
Malam berikutnya, Herman datang lagi ke rumah Chekalinsky. Saat ini, dia mengambil kartu tujuh dari tumpukan kartunya, meletakkannya di atas meja dan menutupinya dengan semua uang yang 
dimilikinya.


 

Chekalinsky membagi kartunya. Kartu jack di kanan dan, di kiri – kartu tujuh. Herman membuka kartunya. Dia menang lagi. Wajah Chekalinsky pucat saat dia menghitung kekalahannya sampai sembilan puluh empat ribu rubel. Herman memasukkan seluruh uangnya ke dalam saku dan pergi.
Ketika Herman muncul di malam ketiga, semua orang sudah menantikannya. 

Para Jendral dan orang-orang penting lainnya datang untuk melihat. Mereka semua berdiri dalam keheningan saat Herman duduk berhadapan dengan Chekalinsky. Herman meletakkan kartu tertutupnya di atas meja. Di atas kartunya itu, dia meletakkan semua uang miliknya – seratus delapan puluh delapan ribu rubel.

Chekalinsky membagi kartu. Tangannya gemetar. Lalu, saat dia meletakkan kartu ke sebelah kanan dan ke sebelah kirinya, kartu queen terjatuh di sebelah kanan dan kartu as di sebelah kiri.

As menang!” Keluh Herman dan menunjukkan kartunya.

Queen kamu kalah,” kata Chekalinsky tenang.



 

Herman melihat lagi kartu di tangannya. Bagaimana dia bisa melakukan kebodohan ini? Tentu saja kartu as menang, dan dia memegang kartu queen hati ! Saat dia melihat kartunya, kartu queen hati nampak mengedipkan sebelah matanya. Dia nampak seperti si Janda Bangsawan yang telah mati itu.


Si Janda tua!” Herman teriak ketakutan.

Tapi tak ada seorangpun yang mendengar teriakannya. Mereka semua sedang tenggelam dalam kegembiraan bersama Chekalinsky. Dialah pemenangnya.

Penjudi ulung!” teriak Tomsky.

Tak ada seorangpun yang tahu saat Herman berjalan gontai keluar dari ruangan itu. Tak seorangpun yang pernah melihat dia lagi di Saint Petersburg.

* * * * *


Herman jadi gila dan dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Dia terus menerus mengocehkan hal yang sama. Dia tidak pernah bicara yang lain. 

Tiga! Tujuh! As!…Tiga! Tujuh! Queen!

Temannya Tomsky menikah dengan seorang putri bangsawan dan Lizavyeta Ivanovna pun akhirnya menikah dengan seorang tentara dan mereka hidup bahagia.


* * * * *



The Queen of Spades - Aleksandr Pushkin (1834)

1 comments:

  1. SAYA INGIN BERBAGI CERITA KEPADA SEMUA ORANG BAHWA MUNKIN AKU ADALAH ORANG YANG PALING MISKIN DIDUNIA DAN SAYA HIDUP BERSAMA .SUAMI DAN 3 BUAH HATI SAYA SELAMA 10 TAHUN DAN 10 TAHUN ITU KAMI TIDAK PERNAH MERASAKAN YANG NAMANYA KEMEWAHAN,,SETIAP HARI SAYA SELALU MEMBANTIN TULANG BERSAMA,SUAMI SAYA UNTUK KELUARGA SAYA NAMUN ITU SEMUA TIDAK PERNAH CUKUP UNTUK KEBUTUHAN HIDUP KELUARGA SAYA..AKHIRNYA AKU PILIH JALAN TOGEL INI DAN SUDAH BANYAK PARA NORMAL YANG SAYA HUBUNGI NAMUN ITU SEMUA TIDAK PERNAH MEMBAWAKAN HASIL DAN DISITULAH AKU SEMPAT PUTUS ASA AKHIRNYA ADA SEORANG TEMAN YANG MEMBERIKAN NOMOR, (MBAH JOYO RATMO) ,, SAYA PIKIR TIDAK ADA SALAHNYA JUGA SAYA COBA LAGI UNTUK MENGHUBUNGI, (MBAH JOYO RATMO). DAN AKHIRNYA,(MBAH JOYO RATMO , MEMBERIKAN ANGKA GHOIBNYA, ,4D... DAN ALHAMDULILLAH BERHASIL..KINI SAYA SANGAT BERSYUKUR MELIHAT KEHIDUPAN KELUARGA SAYA SUDAH JAUH LEBIH BAIK DARI SEBELUMNYA,DAN TANDA TERIMAH KASIH SAYA KEPADA MBAH SETIAP SAYA DAPAT RUANGAN PASTI SAYA BERKOMENTAR TENTAN.(MBAH JOYO RATMO) BAGI ANDA YANG INGIN MERUBA NASIB SEPERTI SAYA SILAHKAN HUBUNGI (MBAH JOYO RATMO) DI NO 085-242474478 DEMI ALLAH LANGIT DAN BUMI PASTI TEMBUS 100% .

    ReplyDelete
:) :)) ;(( :-) =)) ;( ;-( :d :-d @-) :p :o :>) (o) [-( :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ $-) (b) (f) x-) (k) (h) (c) cheer
Click to see the code!
To insert emoticon you must added at least one space before the code.