RAHASIA
KEMENANGAN TIGA KARTU
Herman,
seorang pemuda, tinggal di Saint Petersburg, Rusia. Ayahnya orang Jerman yang
bekerja di Rusia sebelum Herman lahir. Waktu ayahnya meninggal, Herman menjadi
tentara Rusia. Herman tak
punya banyak uang. Tapi banyak tentara muda sering suka menghamburkan uangnya.
Mereka gemar menghabiskan uang dengan minum anggur tiap malam dan bermain
kartu. Kadang-kadang mereka berjudi sampai semalaman.
Herman tidak
pernah minum dan berjudi. Dia sangat berhati-hati dalam menggunakan uangnya.
Tapi dia suka menonton para pemuda kaya bermain judi tiap malam. Dia ingin
sekali menjadi kaya, tapi dia tidak pernah cukup punya uang untuk berjudi.
Salah
seorang pemuda kaya yang sering berjudi tiap malam adalah Tomsky. Tomsky sering
melihat Herman duduk di dekat meja judi dan terheran karena Herman tak pernah
ikut main kartu.
Pada suatu
pesta di satu malam, saat menjelang pukul empat pagi, Tomsky kalah dan uangnya
habis sampai dia menjadi sedih. Dia menginginkan seseorang untuk menjadi teman
bicara, lalu dia duduk di samping Herman.
“Kenapa kau
tak pernah main kartu?” Tomsky bertanya pada Herman.
“Uangku cuma
sedikit,” jawab Herman. “Aku tak mau uangku habis di meja judi.”
“Tapi kau
duduk di sini tiap malam dan cuma menonton kami yang kalah dan yang menang.”
Kata Tomsky.
“Ya,” Herman
tak menyangkal. “Aku sangat suka permainan judi kartu.”
“Terus, kau
tak mau ikutan main walaupun kau tahu kau akan menang?” Tanya Tomsky dengan
senyuman.
“Mungkin,”
jawab Herman pelan. “Tapi itu tak mungkin.”
“Mungkin tak
juga,” kata Tomsky. “Nenekku, Istri Bangsawan Anna Fedotofna, dia tahu rahasia
Kemenangan Tiga Kartu. Tapi dia tak mau memberi tahu orang lain dan dia tak
pernah berjudi."
“Aku tak
percaya padamu,” kata Herman.
“Kalau
begitu dengarkan dulu cerita ini,” kata Tomsky. “Nenekku sudah lebih dari
delapan puluh tahun umurnya, tapi dia sangat cantik waktu masih muda. Sekitar
enam puluh tahun yang lalu, nenekku pergi ke Paris. Dia main kartu bersama
Bangsawan dari Orleans dan menghabiskan semua uang kakekku. Kakekku sangat
marah sekali dan mengatakan bahwa dia tak mampu membayar kekalahan itu. Uangnya
tak cukup untuk menutupi seluruh
hutangnya. Nenekku jadi cemas bercampur sedih dan mencoba untuk meminjam uang
dari temannya – seorang ternama yang dikenal sebagai Bangsawan Jerman.
Bangsawan Jerman itu orangnya sangat misterius. Dia sangat kaya raya, tapi tak
ada seorangpun yang tahu dari mana sumber kekayaannya itu. Dia mengetahui
banyak rahasia dan dia menceritakan salah satunya pada nenekku tentang rahasia
Kemenangan Tiga Kartu. Mungkin Bangsawan dari Jerman itu jatuh cinta pada
nenekku, siapa tahu? Malam
berikutnya, nenekku kembali main kartu dengan Bangsawan dari Orleans itu. Dia
memainkan tiga kartu – satu kartu untuk tiap malam. Ketiga-tiganya membuat dia
menang. Dia langsung membayar semua hutang-hutangnya dan tidak pernah berjudi
lagi. Dan dia tidak pernah meberitahukan pada siapapun tentang rahasia
Kemenangan Tiga Kartu itu!”
“Itu tak
benar,” kata Herman pelan. “Itu cuma cerita belaka, kan?”
“Tak juga,”
kata Tomsky. “Tapi waktunya sudah tak memungkinkan! Ini sudah hampir pagi. Enam
seperempat dan ini waktunya untuk tidur.”
Seluruh anak
muda menghabiskan minuman mereka dan pulang ke rumah masing-masing. Pagi ini
adalah awal musim dingin. Sepanjang
perjalanannya di atas jalanan Saint Petersburg yang bersalju, Herman tak bisa
berhenti berpikir tentang cerita Tomsky.
“Kalo aku tahu rahasia Kemenangan Tiga
Kartu itu, aku pasti bisa kaya!” pikir Herman pada dirinya sendiri. “Dan kalo
aku kaya, aku akan berfoya-foya seperti Tomsky.”
Herman tahu
di mana rumah nenek Tomsky dan dia memutuskan untuk berjalan melewatinya. Dia
berdiri di seberang jalan dan melihat ke arah rumah si Janda Bangsawan yang
besar itu. Dalam semburan cahaya pagi, dia melihat seorang gadis cantik duduk
di jendela. Wajahnya murung, seperti sedang menangis. Gadis itu berpaling dan
melihat Herman sedang menatap kepadanya. Herman senyum dan wajah si Gadis jadi
memerah. Dia bergerak cepat menghindari jendela. Herman jadi tersenyum pada
diri sendiri.
Kemudian
hari, Herman bertanya pada teman-teman Tomsky tentang si Gadis yang tinggal di
rumah si Janda Bangsawan tua itu.
“Itu
Lizavyeta Ivanovna,” jawab salah satu teman Tomsky.
“Orangtuanya meninggal
waktu dia masih sangat muda dan dia dititipkan pada si Janda Bangsawan tua itu.
Tapi si Janda Bangsawan tidak memperlakukan dia dengan baik. Si miskin
Lizavyeta tinggal di rumahnya seperti seorang pembantu yang tak digaji. Dia
tidak diperlakukan seperti layaknya seorang anggota keluarga.”
Herman
membuat rencana untuk bisa masuk ke dalam rumah si Janda Bangsawan tua itu.
Tiap hari dia berdiri di luar rumah besar itu dan berusaha menarik perhatian
Lizavyeta. Setelah seminggu, dia menulis surat untuknya.
Pagi
berikutnya, seperti biasanya Lizavyeta Ivanovna keluar rumah bersama si Janda
Bangsawan tua, Herman menyebrangi jalan menuju ke arah mereka. Saat si pelayan
sedang menolong si Janda Bangsawan menaiki keretanya, Herman memberikan
suratnya pada Lizavyeta dan buru-buru berjalan menjauh.
Lizavyeta
menyimpan surat itu. Dia membacanya, saat dia sudah sendirian di kamarnya.
Dalam
suratnya, Herman menulis;
“Buat
Lizavyeta Ivanovna. Saya cinta kamu. Saya harus menjumpai kamu. Dari
pengagummu, Herman.”
Gadis miskin
itu tak tahu apa yang harus dilakukannya. Dia hidup seperti seorang narapidana
di dalam sebuah rumah besar. Dia tak memiliki seorang temanpun. Dia tak memiliki
seseorang untuk dimintai nasehat. Dia
memutuskan untuk membalas surat Herman. Hari berikutnya, ketika dia melihat
Herman berdiri di seberang jalan, dia membuka jendela dan melemparkan suratnya
padanya. Herman memungutnya dan lalu pergi.
Surat
balasan Lizavyeta berbunyi:
“Tidak baik
buat saya menerima sepucuk surat dari orang asing. Saya harus membalas surat
anda karena saya tidak tahu siapa anda. Tapi saya percaya anda adalah orang
baik.”
Herman
berharap Lizavyeta dapat memberikan jawaban atas misteri Kemenangan Tiga Kartu
dengan cara ini. Untuk hari-hari berikutnya, dia memberikan surat pada
Lizavyeta setiap pagi. Lizavyeta membalas suratnya dan balasannya kian hari
kian panjang dan panjang.
Seminggu
kemudian, Lizavyeta melemparkan suratnya keluar jendela:
“Si Janda
Bangsawan akan keluar malam ini. Dia tidak akan pulang sampai jam dua pagi.
Saya akan biarkan pintu depan tak terkunci. Para pelayan akan tidur. Datanglah
setengah sebelas. Naik ke atas dan belok kiri. Kamu akan melihat kamar si
Bangsawan tepat di depan kamu. Masuklah kekamar si bangsawan itu. Di sana ada
dua pintu besar di belakang tirai merah di kamarnya itu. Pintu sebelah kanan
akan mengarah ke ruang baca, tak ada seorangpun yang pernah masuk ke sana. Di
balik pintu yang lain, ada tangga yang akan menuntun kamu ke kamar saya.”
Sepanjang
hari Herman menunggu dengan penuh ketaksabaran. Tepat jam sepuluh malam, dia
sudah berada di luar rumah si Janda Bangsawan. Saat ini angin dingin dan salju
turun, tapi dia tak merasakan semua itu. Herman
melihat si Janda Bangsawan menaiki kereta kudanya dan berlalu dari situ. Pada
saat tepat jam setengah sebelas, dia masuk ke dalam rumah. Dia bergegas menaiki
tangga dan masuk ke dalam kamar si Janda Bangsawan. Cahaya keemasan memancar dari
lampu minyak di kamar itu.
Herman tak
beranjak ke kamar Lizavyeta. Tapi dia malah memasuki pintu sebelah kanan, ke
kamar baca. Dia berdiri di kegelapan dan keheningan, mendengarkan detak jam
yang tak terasa telah menunjuk jam dua belas, lalu satu, kemudian dua.
Menit-menit berlalu, seorang pelayan membawa lilin menyala memasuki kamar tidur,
diikuti si Janda Bangsawan.
Herman
memperhatikan dari balik tirai merah. Si pelayan menggantikan pakaian wanita
tua itu dengan pakaian tidur. Tapi si Janda Bangsawan tak mau tidur. Dia cuma
duduk di kursi goyang dekat jendela dan memandangi lampu jalanan. Si pelayan
meniup lilin dan meninggalkan dia sendirian.
Si Janda
Bangsawan melihat ke arah munculnya Herman dari balik tirai merah.
“Jangan
takut,” kata Herman. “Saya tak akan menyakiti anda. Saya datang cuma ingin
mengajukan satu pertanyaan.”
Si Janda
Bangsawab tercekat.
“Anda tahu
rahasia Kemenangan Tiga Kartu,” kata Herman. “Katakan pada saya rahasia itu dan
saya akan membiarkan anda selamat.”
“Jangan,
jangan” bisik si Janda Bangsawan. “Saya tak bisa mengatakannya padamu.”
“Kenapa?”
Tanya Herman penuh geram. “Anda tahu rahasia itu, kan?”
Si Janda
Bangsawan terdiam.
“Apa gunanya
rahasia itu buat anda?” pinta Herman. “Anda sudah tua. Anda tak butuh uang.
Sebentar lagi anda mati. Bikin saya bahagia. Katakan rahasia itu!”
Si Janda
Bangsawan terus diam.
“Perempuan
tua bodoh,” kata Herman. “Saya akan paksa kamu bicara!”
Herman
mengeluarkan pistol dari sakunya. Si Janda Bangsawan mengangkat kedua tangannya
menutupi sebagian wajahnya, lalu seketika terjungkal ke belakang di sandaran
kursi goyangnya dan tak bergerak lagi. Matanya terus menatap Herman, tapi
tatapan matanya itu kosong. Herman langsung mengira dia sudah mati.
Herman
buru-buru membuka pintu menuju kamar Lizavyeta dan bergegas menaiki tangga.
Lizavyeta masih menunggu kedatangan Herman. Dia mengenakan pakaian terbagusnya.
Wajahnya pucat.
“Dari mana
saja kamu?” dia berbisik.
“Di dalam
kamar si Janda Bangsawan,” jawab Herman. “Si Janda Bangsawan itu mati.”
Lizavyeta
setengah tak percaya mendengarnya.
“Saya datang
ke sini untuk sebuah rahasia,” Herman menjelaskan. “Saya mau mempelajari
rahasia kemenangan tiga kartu. Saya menanyakannya pada si Janda Bangsawan. Tapi
dia menolak. Lalu tiba-tiba, dia mati di kursinya. Saya tak membunuhnya.”
Mata Lizavyeta
berurai air mata. Dia mengerti sekarang kalau surat-surat cintanya adalah
sesuatu yang hampa! Dia mulai menangis sesegukan. Dia menginginkan Herman untuk
segera keluar dari rumah itu secepatnya. Dia tak ingin melihatnya lagi. Lizavyeta
menghapus air matanya.
“Ada tangga
rahasia dari ruang baca si Janda Bangsawan,” katanya. “Tangga itu menuju ke
bawah menuju jalanan belakang rumah. Ini – ambil kuncinya. Pergi sekarang!”
Herman
meninggalkan kamar Lizavyeta menuruni tangga. Dia melewati kembali kamar si
Janda Bangsawan. Wajah si Janda Bangsawan nampak damai. Herman tak bersedih
atas kematian si Janda Bangsawan. Tapi sangat sedih karena dia mati tanpa sempat
memberitahukan rahasianya.
Lalu dia
menemukan pintu rahasia di kamar baca. Dia membukanya dan segera menuruni
tangga yang gelap itu. Anak kunci membuka pintu kecil menuju ke jalanan. Dia
berjalan keluar bergegas meninggalkan rumah itu.
* * * *
Tiga hari
kemudian, Herman datang melayat kematian si Janda Bangsawan. Gereja penuh.
Orang-orang datang dan pergi untuk memberi ciuman terakhir di wajah si Janda
Bangsawan yang terbaring di dalam peti jenazahnya. Herman mengikuti mereka dan
sampai gilirannya berada di depan peti jenazah. Dia melihat ke bawah kepada
jenazah si Janda Bangsawan.
Lalu tiba-tiba, sesuatu yang aneh terjadi. Nampak
oleh Herman, sebelah mata si Janda Bangsawan itu terbuka dan berkedip padanya.
Herman termundur karena terkejut, terpeleset dan jatuh di lantai. Orang-orang
yang berada di sekitar peti jenazah menolong membangunkan Herman dan lalu dia
cepat-cepat meninggalkan gereja itu. Pada saat yang sama, Lizavyeta dalam keadaan
lemah karena sakit hatinya.
Siang
harinya, Herman minum banyak anggur. Dia tertidur di ranjangnya tanpa busana.
Hari sudah
gelap saat dia bangun. Sekitar jam tiga seperempat pagi. Dia pikir ada orang
yang sedang memandanginya lewat jendela. Dia duduk di ranjangnya. Sesaat
kemudian pintu terbuka dan seorang perempuan dalam baju panjang putih, datang.
Dia adalah jenazah si Janda Bangsawan!
“Saya datang
untuk mengatakan rahasia itu,” kata si Janda Bangsawan. “Kamu cuma boleh
memainkan satu kartu pada tiap malam selama tiga malam berturut-turut. Setelah
itu kamu tak boleh main kartu lagi seumur hidup. Juga, kamu tak boleh
memberitahukan rahasia ini pada orang lain. Tiga, Tujuh dan As akan memenangkan
setiap taruhan kamu.”
Janda
Bangsawan itu berbalik keluar melalui pintu yang masih tertutup di belakangnya.
Ini terjadi lama berselang sebelum Herman terjaga dari tidurnya. Dia coba
membuka jendela dan menemukan bahwa pintu itu masih terkunci.
*****
Seorang
penjudi kawakan dikenal dengan nama Chekalinsky tinggal di Saint Petersburg.
Dia telah memenangkan jutaan rubel dari permainan kartu dan siapapun boleh
datang ke rumahnya untuk bermain judi dengannya. Seluruh orang kaya biasa
datang untuk berjudi di mejanya dan Tomsky adalah salah satu pengujung
tetapnya. Herman meminta Tomsky untuk mengajaknya datang ke rumah Chekalinsky.
Permainan
judi telah dimulai ketika mereka sampai. Chekalinsky sedang membagikan kartu.
Herman menunggu sampai akhir permainan dan dia berkata, “Boleh saya main?”
Chekalinsky
cuma senyum dan mengangguk. Herman mengambil tiga kartu dari tumpukannya dan
meletakkannya di meja. Lalu mengeluarkan uang taruhan dari kantongnya dan mulai
menutupi kartu dengan uang itu.
Chekalinsky
sempat terkejut. “Kamu mau taruhan berapa?” tanyanya, sambil mengeluarkan
catatan banknya.
“Empat puluh
tujuh ribu rubel,” jawab Herman.
Semua orang
seketika berbalik memandang padanya.
“Gila dia,”
seru Tomsky.
“Dia mabuk,”
kata penjudi lain.
“Maaf,” kata
Chekalinsky, “tapi itu banyak sekali- belum ada orang yang taruhan sebanyak
itu.”
”Anda terima
taruhannya apa tidak?” Tanya Herman.
Chekalinsky
mengangguk dan memulai membagi kartu. Kartu di tangan kanannya adalah kartu
yang kalah – kartu di tangan kiri kartu yang menang. Dia membuka kartu sembilan
dari kanan dan kartu tiga dari kiri.
“Saya
menang,” kata Herman, sambil menunjukkan kartunya – kartu tiga.
Chekalinsky
senyum perlahan, lalu menghitung uangnya. Herman meraup uangnya dan pergi.
Malam
berikutnya, Herman datang lagi ke rumah Chekalinsky. Saat ini, dia mengambil
kartu tujuh dari tumpukan kartunya, meletakkannya di atas meja dan menutupinya
dengan semua uang yang
dimilikinya.
Chekalinsky
membagi kartunya. Kartu jack di kanan dan, di kiri – kartu tujuh. Herman membuka
kartunya. Dia menang lagi. Wajah
Chekalinsky pucat saat dia menghitung kekalahannya sampai sembilan puluh empat
ribu rubel. Herman memasukkan seluruh uangnya ke dalam saku dan pergi.
Ketika
Herman muncul di malam ketiga, semua orang sudah menantikannya.
Para Jendral
dan orang-orang penting lainnya datang untuk melihat. Mereka semua berdiri
dalam keheningan saat Herman duduk berhadapan dengan Chekalinsky. Herman
meletakkan kartu tertutupnya di atas meja. Di atas kartunya itu, dia meletakkan
semua uang miliknya – seratus delapan puluh delapan ribu rubel.
Chekalinsky
membagi kartu. Tangannya gemetar. Lalu, saat dia meletakkan kartu ke sebelah
kanan dan ke sebelah kirinya, kartu queen terjatuh di sebelah kanan dan kartu
as di sebelah kiri.
“As menang!”
Keluh Herman dan menunjukkan kartunya.
“Queen kamu
kalah,” kata Chekalinsky tenang.
Herman
melihat lagi kartu di tangannya. Bagaimana dia bisa melakukan kebodohan ini?
Tentu saja kartu as menang, dan dia memegang kartu queen hati ! Saat dia
melihat kartunya, kartu queen hati nampak mengedipkan sebelah matanya. Dia
nampak seperti si Janda Bangsawan yang telah mati itu.
“Si Janda
tua!” Herman teriak ketakutan.
Tapi tak ada
seorangpun yang mendengar teriakannya. Mereka semua sedang tenggelam dalam
kegembiraan bersama Chekalinsky. Dialah pemenangnya.
“Penjudi
ulung!” teriak Tomsky.
Tak ada
seorangpun yang tahu saat Herman berjalan gontai keluar dari ruangan itu. Tak
seorangpun yang pernah melihat dia lagi di Saint Petersburg.
* * * * *
Herman jadi
gila dan dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Dia terus menerus mengocehkan hal yang
sama. Dia tidak pernah bicara yang lain.
“Tiga! Tujuh! As!…Tiga! Tujuh! Queen!”
Temannya Tomsky menikah dengan seorang putri bangsawan dan Lizavyeta
Ivanovna pun akhirnya menikah dengan seorang tentara dan mereka hidup bahagia.
* * * * *
The Queen of Spades - Aleksandr Pushkin (1834)
SAYA INGIN BERBAGI CERITA KEPADA SEMUA ORANG BAHWA MUNKIN AKU ADALAH ORANG YANG PALING MISKIN DIDUNIA DAN SAYA HIDUP BERSAMA .SUAMI DAN 3 BUAH HATI SAYA SELAMA 10 TAHUN DAN 10 TAHUN ITU KAMI TIDAK PERNAH MERASAKAN YANG NAMANYA KEMEWAHAN,,SETIAP HARI SAYA SELALU MEMBANTIN TULANG BERSAMA,SUAMI SAYA UNTUK KELUARGA SAYA NAMUN ITU SEMUA TIDAK PERNAH CUKUP UNTUK KEBUTUHAN HIDUP KELUARGA SAYA..AKHIRNYA AKU PILIH JALAN TOGEL INI DAN SUDAH BANYAK PARA NORMAL YANG SAYA HUBUNGI NAMUN ITU SEMUA TIDAK PERNAH MEMBAWAKAN HASIL DAN DISITULAH AKU SEMPAT PUTUS ASA AKHIRNYA ADA SEORANG TEMAN YANG MEMBERIKAN NOMOR, (MBAH JOYO RATMO) ,, SAYA PIKIR TIDAK ADA SALAHNYA JUGA SAYA COBA LAGI UNTUK MENGHUBUNGI, (MBAH JOYO RATMO). DAN AKHIRNYA,(MBAH JOYO RATMO , MEMBERIKAN ANGKA GHOIBNYA, ,4D... DAN ALHAMDULILLAH BERHASIL..KINI SAYA SANGAT BERSYUKUR MELIHAT KEHIDUPAN KELUARGA SAYA SUDAH JAUH LEBIH BAIK DARI SEBELUMNYA,DAN TANDA TERIMAH KASIH SAYA KEPADA MBAH SETIAP SAYA DAPAT RUANGAN PASTI SAYA BERKOMENTAR TENTAN.(MBAH JOYO RATMO) BAGI ANDA YANG INGIN MERUBA NASIB SEPERTI SAYA SILAHKAN HUBUNGI (MBAH JOYO RATMO) DI NO 085-242474478 DEMI ALLAH LANGIT DAN BUMI PASTI TEMBUS 100% .
ReplyDeleteClick to see the code!
To insert emoticon you must added at least one space before the code.