Wednesday, 8 December 2021

Bukan Bungkam! Indonesia Bargaining Position Terhadap China

Ilustrasi Gambar : SINDONews


Pemerintah China meminta Indonesia menghentikan pengeboran Migas di Laut China Selatan dan menghentikan latihan militer Garuda Shield (latihan bersama Amerika dan Indonesia). Surat protes tersebut dimuat dalam Laporan eksklusif Reuters 1 Desember 2021. Guru Besar Hukum Internasional di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana, mengungkapkan 3 alasan China melayangkan surat protes tersebut :  

1. Perspektif China terhadap Nine Dash Line

Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) berdasarkan UNCLOS 1982; area laut dari sebuah negara berjarak 200 mil dari garis dasar pantai terluar. Sedangkan China memiliki pandangan Nine Dash-Line yang sebelumnya adalah Eleven Dash Line, wilayah historis Laut China Selatan seluas 2 juta kilometer persegi yang 90% didalamnya mereka klaim sebagai hak maritim. Bahkan meski wilayah-wilayah ini berjarak hingga 200 km dari daratan China.

Indonesia patut menentukan bargaining position terhadap sikap China selama ini. Secara hukum internasional UNCLOS 1982, Indonesia memiliki kedaulatan terhadap wilayah maritim dan kedaulatan Laut. Terkait konflik ini, Indonesia berhak untuk melakukan protes dan memberikan peringatan kepada China melalui Menteri Luar Negeri (Menlu), Retno Lestari Priansari Marsudi menegaskan bahwa "Kami akan terus menegakkan prinsip kami melawan negara Partai Komunis atas klaim militer mereka". Indonesia tidak terlibat sengketa maritim di LCS dengan China. Tetapi, kerap kali Kapal Penangkap Ikan China yang dikawal kapal Coast Guard sering masuk perairan Natuna. Bargaining position Indonesia memiliki kepentingan nasional yang berlaku sepanjang masa yang sudah tertuang dalam alinea 4 pembukaan UUD 1945 dengan menjunjung tinggi kepentingan keamanan negara, kepentingan kesejahteraan, kepentingan hubungan internasional. Lokasi pengeboran minyak masih masuk dalam ZEE sesuai dengan hukum internasional. Bahkan RIG Noble yang disengkatakan masih masuk dalam landas kontinen karena hanya berjarak kurang dari 150 mil dari Pulau Sekatung yaitu pulau terluar dari gugus kepulauan Natuna. TNI AL sendiri saat ini masih menyiagakan 5 kapal perang untuk pengamanan kegiatan anjungan minyak lepas pantai.

Indonesia patut menentukan bargaining position terhadap sikap China selama ini. Secara hukum internasional UNCLOS 1982, Indonesia memiliki kedaulatan terhadap wilayah maritim dan kedaulatan Laut. Terkait konflik ini, Indonesia berhak untuk melakukan protes dan memberikan peringatan kepada China melalui Menteri Luar Negeri (Menlu), Retno Lestari Priansari Marsudi menegaskan bahwa "Kami akan terus menegakkan prinsip kami melawan negara Partai Komunis atas klaim militer mereka". Indonesia tidak terlibat sengketa maritim di LCS dengan China. Tetapi, kerap kali Kapal Penangkap Ikan China yang dikawal kapal Coast Guard sering masuk perairan Natuna. Bargaining position Indonesia memiliki kepentingan nasional yang berlaku sepanjang masa yang sudah tertuang dalam alinea 4 pembukaan UUD 1945 dengan menjunjung tinggi kepentingan keamanan negara, kepentingan kesejahteraan, kepentingan hubungan internasional. Lokasi pengeboran minyak masih masuk dalam ZEE sesuai dengan hukum internasional. Bahkan RIG Noble yang disengkatakan masih masuk dalam landas kontinen karena hanya berjarak kurang dari 150 mil dari Pulau Sekatung yaitu pulau terluar dari gugus kepulauan Natuna. TNI AL sendiri saat ini masih menyiagakan 5 kapal perang untuk pengamanan kegiatan anjungan minyak lepas pantai.

2. Prosedur standar agar terkesan China tidak terkesan melepaskan wilayah

Sebagai negara yang mengklaim zona wilayah teritorialnya di Laut, China berusaha untuk menjalankan prosedur terhadap ancaman dan serangan yang datang dari luar kedaulatan China. Jika China tidak melayangkan protes terhadap pengeboran MIGAS di Natuna Utara, maka dianggap China telah melepas wilayah teritorial tersebut terhadap Indonesia. Selain itu, China berusaha untuk menggambarkan kekuatannya pada dunia termasuk Indonesia. 


3.  Membangun Citra Otoritas China Akuntabel di luar dan didalam negeri China

 Dalam hal ini, Otoritas China diharapkan akuntabel dalam segala macam persoalan. Otoritas ini berkenaan dengan citra baik pemerintahan China terhadap rakyatnya dan pada dunia yang tetap berpegang teguh pada prinsip Nine Dash-Line yang selama ini digaungkan. 


Menanggapi tuntutan China tersebut, Muhammad Farhan, anggota DPR RI, berpendapat bahwa Indonesia tidak akan menghentikan pengeboran MIGAS tersebut di Laut Natuna. Hal ini karena jelas wilyah teritorial tersebut berada di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia dan sah dalam hukum internasional. Balasan surat diplomatik kepada China adalah Indonesia MENOLAK/ TIDAK MENERIMA surat diplomatik tersebut dan akan terus melanjutkan pengeboran MIGAS di Laut Natuna. Nota Diplomatik sikap asertif tersebut tidak perlu dinegosiasi. Setelah penolakan surat tersebut, saat ini Indonesia tidak perlu reaktif menanggapi klaim China tersebut. Sikap reaktif justru membuat China makin besar kepala dan menganggap Indonesia sudah mengakui Nine Dash-Line yang berlaku di China. Saat ini, Indonesia harus tetap berwaspada kemungkinan yang tidak terduga dan mempersiapkan pasukan TNI AL untuk menjaga kedaulatan NKRI di Natuna. 


Filiphina pernah mempertanyakan terkait masalah Nine Dash Line China vs UNCLOS 1982, apakah nine dash line dikenal dalam hukum internasional UNCLOS 1982? Jawabannya pada tahun 2016 adalah tidak dikenal. Meski demikian, China tidak merasa butuh pengakuan tersebut dan klaim tersebut terus dilayangkan kepada beberapa negara ASEAN. Eskalasi konflik LCS ini akan terus terjadi, karena China akan terus berusaha menaikkan isu Nine Dash-Line ini sebagai hal serius yang harus ditanggapi. Saat ini, Pemerintah China terus mengupayakan pengakuan kekuatan Nine Dash-Line secara internasional. Pemerintah dan Rakyat Indonesia harus cerdas terhadap segala isu ancaman yang terjadi dan akan terjadi. 


Salam, 


Sri Patmi 

Sunday, 5 December 2021

Mengelola Sampah Emosi Tanpa Menimbulkan Friksi

Ilustrasi Gambar : Liputan6.com

 

 "Mama Bilang Diam! Jangan Nangis!" 

"Jangan Cengeng Jadi Anak!"

"Jangan Marah-Marah sama orang, enggak bagus!" 

 

Ungkapan seperti ini sering terjadi didalam kehidupan sehari-hari. Seorang anak yang menangis kepada orang tua karena kesal, marah dan kecewa. Orang tua dengan segera menyuruh untuk diam. Seorang bos yang marah kepada bawahannya karena kinerja yang salah. Lalu ia pulang membawa kekesalannya dan melampiaskan kepada istri. Seorang ibu yang lelah bekerja, mengurus rumah tangga dan bertengkar dengan suami melampiaskan kemarahannya kepada anak. Dendam pada mertua lalu suami yang menerima pembalasannya. Itu semua bukan cerita dalam drama di layar kaca. Realita kehidupan ini tidak terlepas dari tubuh fisik dan batin yang kurang seimbang dalam menghadapi masalah. Lalu bagaimana menyeimbangkan keadaan tubuh fisik dan batin agar friksi dapat diminimalisasi? 

 

Katarsis

Merupakan pelepasan emosi negatif dan keluh kesah akibat luka batin yang tersimpan serta terpendam. Kathoros berasal dari Bahasa Yunani yang berarti pembersihan dan pemurnian. Sigmund Freud menggambarkan kondisi seseorang melepaskan rasa sakit di masa lalu dengan cara mengartikulasikan segala sakit secara menyeluruh. 

 

“The Stimulating Versus Cathartic Effect of a Vicarious Aggressive Activity” merupakan tulisan Sigmund Freud pada awal tahun 1960 sebagai penggambaran diri bahwa emosi yang tertahan bisa menyebabkan emosi yang berlebihan sehingga butuh media untuk menyalurkan emosi tersebut. Biasanya emosi yang tertahan ini akibat peristiwa dan pengalaman yang menyakitkan. Psikoanalisis Freud mengungkapkan bahwa manusia dipengaruhi oleh gerakan Eros dan Thanatos. 

Eros adalah bersifat konstruktif atau membangun. Emosi bersifat sementara didalam diri, lalu bangkit menjadikan luka batin menjadi produktif 

Thanatos bersifat destruktif atau merusak. Emosi yang bersifat agresif dan kecenderungan untuk menyerang, melakukan pertentangan dan perlawanan kepada orang lain. Apabila telah mereda emosi ini, suatu hari ia bertemu dengan orang yang pernah melukainya, naluri akan terangsang untuk berperilaku agresi dengan berbagai cara. Misal : tidak mau bertemu dengan dia, buang muka dan lain-lain. 

 

Menjalani kehidupan  ini, tentunya kita sering mengalami pergesekan dengan orang lain. Tersinggung akibat bercanda yang keterlaluan, marah akibat dibentak, kecewa ketika pasangan mendua, kecewa karena cinta bertepuk sebelah tangan dan masih banyak ungkapan rasa lain yang harus diluapkan keluar. Apakah marah-marah dan kecewa kepada orang lain itu wajar? Marah dan kecewanya wajar, tetapi orang lain yang menjadi pelampiasan ini bersifat ambigu dan kurang tepat. 

 

Apa yang Terjadi Pada Tubuh Ketika Marah, Kecewa, Berduka, Kesal? 

Analogi sederhana untuk menggambarkan tubuh fisik dan batin dalam kondisi seperti ini bagaikan menyimpan balon yang terus diisi air. Apabila sudah penuh, meluap dan tidak dapat menampung akan pecah. Kemungkinan yang terjadi ketika pecah kedalam atau pecah keluar. Jika pecah didalam, tentunya hal ini akan menjadi racun didalam diri. Luka batin ini akan tersimpan dan terpendam, memori akan merekam dan suatu saat akan recall (dipanggil kembali). Maksudnya recall adalah menimbulkan perasaan bersalah yang berkepanjangan. Pernah melihat seorang kakek/nenek yang sudah mulai terserang demensia? Tiba-tiba melihat cermin, menangis. Melihat anak kecil yang bermain, menangis. 

 

Perasaan Ditolak atau Denying. Saat terjadi ungkapan rasa marah, kecewa dan kesal, disinilah perasaan denying muncul. Keadaan menyangkal, mengingkari, melawan, keberatan dan antipati akan mengikuti berjalan beriringan dengan perasaan marah. Merasa ditolak oleh lingkungan dan ditinggalkan oleh orang lain. Emotional distress meningkat dan memicu tindakan membangun dan merusak. Kondisi yang memilukan adalah self-destructive, seorang akan memiliki kecenderungan untuk menyakiti diri sendiri. Menolak realitas pernah disakiti/pernah menjadi korban dan terus berhalusinasi, jika ia ditolak oleh lingkungan. 

 

Anjuran penanganan perasaan seperti ini dapat dilakukan dengan hypnotherapy. Tetapi hypnotherapy dapat dilakukan dengan katarsis terlebih dahulu. Luka batin yang belum disembuhkan dengan cara katarsis akan tersimpan didalam gudang memori dan suatu saat akan terpanggil lagi mencuat di permukaan. 

 

Apa yang Terjadi Jika Tidak Meluapkan Emosi Negatif?

Berdasarkan hasil Riset Programme for International Students Assesment(PISA) 2018, Indonesia menempati posisi ke-5 dari 78 negara dengan jumlah kasus korban perundungan (bullying) sejumlah 41,1%. Sepanjang 2018, KPAI mencatat 445 kasus kekerasan di lingkungan terjadi pada anak, baik dilakukan oleh orang tua atau teman sebayanya sendiri. Ditemukan lagi fakta lain dari Komnas Perempuan terdapat fakta yang mencengangkan berupa 8.234 kasus kekerasan perempuan diranah pribadi/privat yaitu kekerasan terhadap istri 3.221 kasus (49%), posisi kedua kekerasan terhadap pacar 1.309 kasus (20%), ketiga kekerasan terhadap anak perempuan 954 kasus (14%), sisanya kekerasan terhadap mantan suami, mantan pacar, pekerja rumah tangga. Komnas perempuan mengungkapkan pola yang sama, dipicu oleh ranah hubungan/lingkungan pribadi dengan berbagai faktor yaitu himpitan ekonomi, ketidakharmonisan keluarga, kontrol emosi yang kurang, faktor internal yang tempramen, kecemasan berlebihan dan pengalaman masa lalu yang menyakitkan. 

 

UU No.18 Tahun 2014 tentang kesehatan jiwa mengkategorikan kondisi gangguan kesehatan jiwa seseorang dalam tiga kelompok : 

1. Orang Dengan Masalah Kejiwaan (ODMK) yaitu orang yang mengalami masalah fisik, mental, sosial, kualitas hidup sehingga beresiko mengalami gangguan jiwa. 

2. Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yaitu orang yang mengalami gangguan dalam bentuk pikiran, perilaku dan perubahan yang bermakna sehingga tidak dapat menjalankan fungsi diri sebagaimana manusia harus bertindak. 

3. Orang Gangguan Jiwa Berat (termasuk dalam ODGJ) yaitu orang yang sudah tidak dapat membedakan realitas kehidupan dan kerap kali mengalami halusinasi dan ilusi. 

 

Sekumpulan kasus ini menjadi gambaran betapa bahayanya emosi negatif yang tidak dikontrol dengan baik oleh diri. Dampaknya akan buruk terhadap diri sendiri dan orang lain. Bahkan dampak ini bersifat ripple effect/ efek riak yang negatif terhadap lingkungan sekitar. Misalnya seorang anak yang selalu dijadikan korban pelampiasan kekesalan orang tua, karena tidak sanggup melawan akan berusaha melampiaskan kemarahannya kepada teman sebaya dengan melakukan bullying. Jika tidak mampu bersikap agresif, ia akan tumbuh menjadi anak yang pemurung dan penutup. Pelampiasan lainnya, ia akan bercerita kepada orang lain karena di rumah ia tidak menemukan kenyamanan. Hal ini akan dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan tindak kejahatan seperti kekerasan seksual dan human trafficking. Kondisi lain ketika emosi negatif tidak meluap keluar adalah depresi, gangguan kejiwaan dan kelahiran prematur bagi ibu yang sedang hamil.  

 

Membuang Sampah Emosi dengan Baik : 

1. Therapy Zaman Yunani Kuno  

Selain Sigmund Freud, Aristoteles pernah membahas masalah katarsis dalam dua karya yang berjudul Politics dan Poetics. Dalam karya politics, ia menyebutkan seseorang yang merasakan pengalaman yang memilukan dapat disembuhkan dengan mendengar lagu sakral karena lagu sakral dianggap sebagai pemurnian dan penyucian diri. Buku ke-enam yang berjudul Poetics menyebutkan bahwa Drama Yunani Kuno dapat digunakan sebagai media membuang emosi negatif dalam diri. Drama Yunani Kuno ini menirukan rasa pilu dan takut yang dialami seseorang, sehingga dengan cara melihat maka emosi akan meluap melalui drama tersebut. 

 

2. Art Therapy 

Batin yang tertekan tak selamanya keluar dalam bentuk amarah, kemarahan dan dendam. Kondisi batin yang tertekan akan menyebabkan luapan emosi justru masuk kedalam diri dalam bentuk depresi dan frustasi. Hal ini yang membuat penderita depresi sulit untuk mengungkap perasaannya melalui kata-kata atau sekedar bercerita tentang apa yang ia rasakan. Salah satu caranya dengan menggambar, melukis dan menuangkan segala bentuk amarah dalam bentuk visual sebagai pengganti kata-kata. American Art Association (2013), menyatakan bahwa art therapy ini sebagai bentuk memfasilitasi seseorang yang memendam emosi dengan menggunakan media seni sebagai cara berpikir kreatif. Hasil karya ini akan digunakan untuk mengeksplorasi ungkapan konflik emosi didalam diri, menata diri, menata perubahan yang terjadi, dan mengembalikan pada orientasi realitas kehidupan. Art Therapy dapat mengurangi ketergantungan pada orang lain jika emosi tersebut harus meluap. Artinya pelampiasan diri sudah terpenuhi melalui proses berpikir kreatif diatas tinta dan kertas, sehingga pergesekan dengan marah kepada orang lain dapat diminimalisasi. 

 

​3. Self Hypnosis 

Metode ini digunakan untuk memberikan motivasi kepada diri sendiri. Metode ini menggunakan pikiran bawah sadar, relaksasi dan sugesti untuk mengembalikannya dalam kondisi normal. Stimulus ini diberikan dengan cara menghilangkan segala bentuk campur tangan pikiran dan mengembalikan pada kesadaran diri tentang kehidupan. 

4. Self Therapy dengan Menulis 

Terkadang ada hal yang tidak dapat diceritaka kepada orang lain dengan berbagai alasan. Misalnya karena rasa tidak enak akan menyakiti hati orang lain dan menyimpannya rapat-rapat, tidak mampu melawan karena tidak enak hati dan lain-lain. Setiap diri memiliki sikap yang berbeda, ada yang diam (pasif) dan lantang (subversif). Bagi subversif, ia akan lantang berbicara dan tidak akan memendam luka batin didalam dirinya. Bagi si pasif, ia akan memilih untuk banyak diam dan membuktikan dengan fakta terbalik. Media tulisan dapat digunakan untuk menuangkan segala bentuk emosi negatif dibanding menyakiti hati orang lain. Dalam diary, seseorang tidak akan malu mengungkapkan semua yang dirasakan. Menuliskan segala keluh kesah dalam catatan menjadi self therapy untuk mengantisipasi tindakan buruk yang terjadi. Hal ini dapat melatih dan memicu amigdala bagian otak untuk berpikir kreatif dan ekspresif. Keadaan normal yang dihadapi oleh diri merasa sakit jika disakiti. Hal yang berbahaya adalah jika sudah tidak dapat merasakan sakit. Keadaan tidak dapat merasakan sakit atau congenital insensitivity to pain yang disebabkan oleh faktor genetik karena mutasi gen SCN9A atau yang jarang terjadi adalah mutasi gen PMRD12.  

5. Bercerita, Bernyanyi dan Menangis 

Jika bercerita dapat melegakan batin yang tertekan, maka pilihlah orang yang tepat untuk berbicara. Ketika seseorang berbicara, maka simptom (gejala munculnya perbedaan diri akibat penyakit) akan menghilang. Jika harus meluapkan emosi negatif dalam bentuk menangis, keluarkan dalam bentuk tangis yang bermanfaat. Setelah itu, berusahalah untuk membangun kepercayaan diri bahwa setiap orang memiliki keberhargaan dalam kehidupan ini. Jika melihat anak menangis, biarkan ia melepas semua perasaan kecewa dan kekesalannya. Menangis bukan tanda lemah dan cengeng, menangis menjadi media katarsis yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Dengan menekan alam bawah sadar pada kesadaran bahwa realitas ini berjalan beriringan ada gelap dan terang, baik dan buruk, bahagia dan sedih. Jika orang tua marah, ada sisi baik dan buruk didalam orang tua yang harus disadari sebagai bentuk realitas dunia yang berjalan seimbang. Bagi orang tua atau pasangan, tidak ada salahnya membentuk kesadaran untuk meminta maaf apabila bersalah. Hal ini dapat membangun kepercayaan diri seseorang setelah adanya penolakan didalam diri. 

 

6. Meditasi 

Metode penenangan diri melalui meditasi bertujuan untuk menekan sisi fisik untuk memunculkan sisi batin. Treatment meditasi ini dengan cara dogmatis atau mengurangi aktivitas fisik. Jika sedang melakukan banyak aktivitas, cobalah untuk menarik diri dengan menyadari keberadaan batin Anda yang sangat penting untuk didengar dan dipulihkan setelah terluka. 

 

7. Menyeimbangkan Diri dengan Olah Raga, Olah Rasa, Olah Jiwa, Olah Mental 

Hal ini dapat dilakukan seiring dengan perjalanan waktu dan pendewasaan diri. Pada tahapan seperti apa kita akan merasakan puncaknya kekecewaan, puncaknya kemarahan, puncak bahagia bahkan puncak pencapaian tertinggi diri dengan menggabungkan sisi fisik dan batin dengan berbagai pengalaman dan peristiwa didalam kehidupan. 

 

Emosi negatif ini memang berbeda dengan gangguan mental, tetapi emosi negatif yang tidak dikelola dengan baik akan menyebabkan gangguan mental dan merusak lingkungan sekitar. Emosi negatif menjadi penyeimbang didalam kehidupan, tetapi porsinya harus diperhatikan dan membuangnya harus dengan cara yang tepat. Kita harus mulai mengenal diri dalam sudut normal dan abnormal. 

 

Bogor, 5 Desember 2021

Salam, 

 

Sri Patmi  

Thursday, 2 December 2021

Dituduh Patient Zero, Gaetan Dugas Penyebar Virus HIV Pertama di Dunia

 

Ilustrasi Gambar : boombastis.com


Gaetan Dugas, Pria kelahiran Quebec City, 20 April 1953 yang berprofesi sebagai pramugara Air Canada. Dugas merupakan sosok yang karismatik dan memiliki  2500 pasangan  kencan homo seksual. Pada tanggal 27 Juni 1977 Dugas resmi menikah di Los Angeles, diduga pernikahannya sebagai upaya untuk mendapatkan kewarganegaraan Amerika Serikat. Pada hari musim dingin yang cerah namun sangat dingin di akhir Januari 1982, Gaétan Dugas meninggalkan apartemennya di pusat kota Montreal untuk mengirim surat kepada Ray Redford, mantan kekasih di Vancouver yang tetap berteman dengannya. Isi pesan tersebut menyebutkan bahwa dia merenungkan keadaan kesehatannya yang baru-baru ini bermasalah.

Istilah "Patient Zero" muncul pada Maret 1984 setelah penelitian Centers for Disease Control and Prevention (CDC) dirilis. Reporter asal San Francisco bernama Randy Shilts menerbitkan buku berjudul And the Band Played On, dimana sosok Dugas turut pula diceritakan sebagai salah satu tokoh cerita. Dugas diduga seorang sosiopatik yang senang menyebarkan virus ke orang. Banyak yang telah ditulis tentang Gaétan Dugas, eksploitasi seksualnya, dan penolakan kontroversial untuk mematuhi rekomendasi dari pejabat kesehatan masyarakat sosial di awal 1980-an. Dugas adalah pramugari gay Air Canada di pusat mitos "Pasien Nol": pria yang seharusnya memperkenalkan Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) ke Amerika Serikat.

Ahli teori budaya, termasuk Douglas Crimp dan baru-baru ini Priscilla Wald, telah mengkritik cara Dugas dikategorikan sebagai "Pasien 0" oleh CDC dan "Pasien Nol" oleh Shilts. 11 Crimp terfokus pada Konstruksi Shilts tentang Dugas sebagai "penjahat utama buku," sementara Wald mempertanyakan menyebutkan validitas ilmiah dari bukti yang mendasari transformasi Dugas menjadi "Pasien Nol." Mereka setuju bahwa penggambaran Dugas oleh Shilts sangat bermasalah; keduanya juga memberikan pujian yang baik untuk Zero Patience (1993), sebuah film yang layak untuk didiskusikan lebih jauh daripada ruang yang diizinkan di sini.

Akar spiritual film ini dapat ditelusuri ke dekade sebelumnya, ketika organisasi inovatif di pihak orang dengan AIDS memimpin, pada bulan Juni 1983, ke sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh Penasehat Komite Orang dengan AIDS pada konferensi kesehatan gay dan lesbian di Denver. "Prinsip Denver" secara eksplisit menolak "pasif" dari label seperti "sabar" dan "korban" yang mendukung "orang" yang lebih memberdayakan dengan AIDS" atau "PWA" moniker. Orang dengan AIDS sangat menantang gagasan bahwa mereka adalah pasien, atau memang pasien.

Tanggapan Dugas terhadap AIDS secara historis sensitif. Melakukannya juga memberi kita pemahaman yang lebih baik tentang politik pengetahuan selama epidemic. Dimana simpati politik dapat memengaruhi kemampuan seseorang untuk mengakses dan mempercayai informasi yang mungkin menawarkan perlindungan dari ancaman penyakit yang muncul.

Jadi, terlepas dari perintisan  dan sugestif  penggunaan "pasien 0" untuk menggambarkan kasus indeks studi, studi cluster tidak berangkat untuk mengidentifikasi kasus AIDS Amerika pertama. Sebaliknya, "pasien 0" terlihat mewakili mengirim hubungan penting antara kasus sindrom baru di negara.

Pekerjaan Shilts pada masalah kesehatan gay memungkinkan dia untuk mengembangkan sejumlah kontak medis, beberapa di antaranya kemudian terlibat dengan awal CDC pekerjaan epidemiologi tentang AIDS. Dia memohon agar mereka memberinya petunjuk untuk identitas "Pasien Nol," tetapi selain menyebutkan bahwa pria itu seorang Kanada yang sering bepergian rinciannya diungkapkan pada tahun 1983 dalam diskusi tentang studi cluster-mereka menolak untuk memberinya nama. Shilt bersikeras, mengajukan pertanyaan tentang "Pasien Nol" kemana pun dia pergi.

Dia segera menerima jawaban. Wawancara Januari 1986 dengan Dan Turner, orang yang bertahan lama dengan AIDS yang berbasis di San Francisco bernama "Gayton" untuk pramugari maskapai Kanada yang tampaknya menerima kemoterapi sejak 1980. Saat melakukan perjalanan penelitian ke New York sebulan kemudian, Shilt dihadiahi informasi yang lebih detail. Paul Popham, saat itu presiden Krisis Kesehatan Pria Gay, dengan santai berkomentar dalam wawancaranya bahwa ya, dia tahu "Pasien Nol" adalah Gaétan.

Saat dia menulis Band , Shilts sepertinya telah melihat karya Dugas ketidakpatuhan dengan pejabat kesehatan di saat ketidakpastian besar sebagai perwujudan dari perilaku dan keinginan yang tidak manusiawi. Notulen rapat dewan AIDS Vancouver mengungkapkan dua hal kecil tapi momen bersejarah penting yang tidak diungkap Randy Shilts dalam karya riset tersebut. Pada pertemuan mereka pada tanggal 20 Juni 1983, anggota dewan memutuskan untuk mengirim perwakilan untuk mengunjungi “G., seorang korban AIDS” yang baru-baru ini "terlihat dalam sirkulasi." Anggota komite berharap untuk mengajukan banding “kepada G untuk menunjukkan rasa tanggung jawab pribadi kepada masyarakat," dan "berusaha untuk terlibat secara produktif dalam memerangi AIDS.

Enam minggu kemudian, risalah rapat menangkap perubahan terminologi yang signifikan. “Bob [Tivey, teman Gaétan Dugas dan koordinator dukungan kelompok] mencatat

bahwa 'orang dengan AIDS' merupakan istilah yang lebih disukai lebih 'korban' atau 'pasien. Prinsip Denver yang baru-baru ini diumumkan telah mengubah lanskap aktivisme AIDS dan penyediaan layanan, memberikan suara baru bagi mereka yang hidup dengan dan melawan sindrom serta tantangan yang dibawanya. Ini momen bersejarah menyoroti bagaimana lingkungan penelitian AIDS dan aktivisme berada di bawah perubahan dan evolusi yang berkelanjutan antara tahun 1981 dan 1983, seperti juga sikap dan perilaku seksual banyak orang, termasuk orang-orang dari Gaétan Dugas. Dalam bukunya Shilt berharap untuk karakter Dugas untuk mewakili mereka yang menolak untuk mengubah cara mereka.

 

Ketika kita meninjau kembali kehidupan dan hubungan Dugas, berselisih dengan otoritas medis, dan pertimbangkan bukti dari wawancara dengan mereka yang mengenalnya, label “sosiopat” menjadi semakin tidak masuk akal. Sebagai pasien muda yang menarik secara seksual, Dugas harus berurusan dengan keadaan kesehatannya yang berubah dengan cepat, yang secara radikal mengubah kemampuan untuk terlibat secara sosial dalam komunitas gay yang dilaluinya. Selain itu, ia mengalami spekulasi liar tentang aktivitasnya di tengah lanskap pengetahuan medis yang terus berubah. 

 

Contoh khusus dari konstruksi penjahat bersejarah ini menimbulkan pertanyaan tambahan. Bagaimana cerita yang diputar secara sempit oleh Shilts bisa direproduksi begitu mudah dalam catatan sejarah lainnya? Banyak yang sama cara penggambaran jurnalis tentang Dugas tersapu oleh penulis hukum dan menghantui proses Komisi Kepresidenan Reagan, telah sejarawan yang menulis tentang AIDS tanpa disadari mereproduksi sosok abadi dari

penyebar penyakit yang disengaja? Ketika Grmek memasukkan contoh Dugas dalam History of AIDS , ia mengamati bahwa "setiap sejarawan penyakit tahu" bahwa sikap balas dendam seperti itu, atau setidaknya kecerobohan, telah di waktu lain untuk penyebaran tuberkulosis dan sifilis.” Hav melakukan penelitian ini, saya menduga bahwa itu adalah kecurigaan dendam penularan yang secara rutin menyertai epidemi di masa lalu. 

 

 

Pada tanggal 30 Maret 1984 Gaetan Dugas meninggal dan dimakamkan di Quebec City. Salah kaprah dari Patient Zero, pada tahun 2016 dengan kecanggihan analisa genetik bahwa kenyataannya virus HIV sudah ada sebelum ke New York pada tahun 1974. Tuduhan bahwa Gaetan Dugas terpatahkan dengan kecanggihan teknologi medis yang saat ini berkembang.

Virus HIV merupakan keluarga lentivirus yang menyerang mamalia dan imunitas pada binatang/primata yang kemudian disebut Simian immunodeficiency virus (disingkat SIV). Sebuah retrovirus yang ditemukan pada primata. Virus yang menginfeksi manusia adalah HIV-1 dan HIV-2, virus yang menyebabkan AIDS. Berdasarkan penelitian pada tahun 1951, virus SIV telah menyebar di Afrika tengah. Bagaimana SIV menular ke manusia  menjadi HIV? Expossure, infection, spread, adaptation dapat terjadi berdasarkan kedekatan geografis, bushmeat dan demografis.

Kriminalisasi dan stigmatisasi terhadap ODHA yang terjadi pada Gaetan Dugas menjadi bentuk krisis kemanusiaan yang dialami ODHA. Manusia yang tidak dimanusiakan.  Terlepas dari apapun sudut pandang terhadap ODHA, dukungan dari lingkungan sekitar adalah hal yang paling penting untuk saling menguatkan.